Kewajiban Bertabligh
Di dalam Al-Quran surah (5) Al-Maidah ayat 67 Allah SWT berfirman :

Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan engkau. Dan apabila engkau tidak melakukan hal itu, maka engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah melindungi engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum kafir.

Dalam ayat ini Allah SWT menyampaikan perintah untuk menyebar-luaskan, untuk menyampaikan (mentablighkan) ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, Islam Haqiqi. Jadi, BERTABLIGH itu adalah WAJIB hukumnya. Oleh karena itu, tabligh adalah merupakan salah satu TUGAS UTAMA yang harus berusaha dilaksanakan oleh setiap anggota.

#. Persoalan yang selalu muncul adalah, bagaimana caranya melaksanakan tabligh itu ?

#. Berkaitan dgn kewajiban Tabligh tsb, Hd. Khalifatul Masih IV rh, pada masa ke-Khalifahan beliau, telah mengadakan langkah-kangkah :

Mencanangkan gerakkan DAWAT ILALLAH, artinya ; bertabligh itu harus merupakan sebuah gerakan Jemaat.

Melalui khotbah-khotbah Jumat, beliau telah berulang-ulang memberikan petunjuk secara lengkap dan detail mengenai langkah-langkah penting apa dan bagaimana yang harus dilakukan dalam melaksanakan gerakan dawat ilallah tersebut. Petunjuk-petunjuk tersebut kemudian oleh Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia telah dihimpun dan dicetak menjadi sebuah buku yang diberi judul Dakwat Ilallah.

#. Di dalam buku Dakwat Ilallah tersebut, pada intinya, dikemukakan bahwa, untuk keberhasilan pelaksanaan tugas tabligh ada 8 (delapan) langkah yang harus dilakukan :

  1.  Niat / Keinginan / Motifasi.
    Niat (motivasi) adalah hal yang terpenting untuk memulai setiap pekerjaan apapun, karena tiada pekerjaan dapat terwujud tanpa adanya niat (motivasi) pada awalnya. Jadi, untuk keberhasilan pelaksanaan tugas tabligh, pertama-tama setiap anggota harus mempunyai kemauan, keinginan, niat atau motivasi. Tanpa itu pertablighan tidak akan dapat terlaksana, walupun peluang dan kesempatan terbuka lebar.
  2. Doa.
    Berdoa untuk mohon dianugrahi petunjuk dan pertolongan Allah SWT dalam melaksanakan tabligh adalah sangat penting. Karena betapa pun usaha kita dalam menyampaikan tabligh, tetapi yang memberikan hidayah dan membukakan hati orang untuk dapat menerima apa yang kita sampaikan adalah Allah SWT.
  3. Perencanaan.
    Harus dibuat sebuah perencanaan agar pelaksanaan tabligh dapat berjalan dengan baik, apakah secara perorangan atau pun kelompok. Perencanaan tersebut meliputi 5 (lima) hal :
    Siapa yang akan ditablighi :
    Orang yang ada hubungan keluarga.
    Kawan / sahabat.
    Tetangga.
    Orang yang baru dikenal, dll.
    Apa hasil yang dinginkan :
    Terjalin sebuah persahabatan.
    Simpati.
    Baiat.
    Dengan cara bagaimana :
    Perkenalan.
    Kongko-kongko.
    Diskusi./ dialog.
    Silaturahmi.
    Mengundang ke pengajian, dll.
    Kapan dilaksanakan :
    Hari ini.
    Besok.
    Minggu depan.
    Dua minggu ke depan.
    Bulan depan, dll.
    Siapa yang melaksanakan :
    Perorangan.
    Kelompok / Team.
  4. Sabar.
    Tabligh harus dilaksanakan dengan SABAR. Artinya :
    Jangan bosan-bosan.
    Jangan putus harapan apabila usaha belum membuahkan hasil yang diharapkan.
    Jangan tergesa-gesa untuk segera ingin dapat memetik hasil. Soal hasil serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, yakinlah bahwa Allah SWT pasti akan menganugrahkan hasil.
  5. Lakukan dengan disertai Akhlaq
    Artinya, perlihatkan secara nyata kepada orang yang ditablighi :
    Perilaku yang baik.
    Berikan senyum tulus.
    Sapa / Berbicara dengan tutur kata yang baik dan sopan.
    Beri pujian secara wajar apabila perlu.
    Gembirakan / Bahagiakan dia.
    Bagun kepercayaan dan citra positif tentang Jemaat maupun tentang diri kita.
  6. Lakukan metode penggemburan.
    Seperti halnya bertani, sebelum menanam bibit tanaman terlebih dahulu harus melakukan penggemburan tanah yang akan ditanami agar siap ditanami. Demikian pula dalam bertabligh. Bersabar-sabarlah kita terlebih dahulu untuk tidak tergesa-gesa menyampaikan persoalan pokok tabligh, tetapi gemburkanlah (lunakkanlah) terlebih dahulu hati orang yang akan ditablighi dengan memperlakukannya sebagai sahabat. Jadikanlah dia sebagaiana layaknya saudara kita.
  7. Lakukan metode penjinakan.
    Seperti halnya hewan, sapi umpamanya. Seorang petani yang ingin membajak sawah atau ladang tidak bisa serta-merta dapat menggunakan hewan sapi yang sama –sekali belum pernah dipakai membajak, maka sapi itu terlebih dahulu harus dijinakkan, dengan cara mengusap-usapnya, mengelus-elusnya dengan kasih sayang sambil secara perlahan-lahan dipasangkan alat bajak sampai kemudian menjadi terbiasa. Demikian pula dalam bertabligh, ada yang pendekatannya harus dengan metode penjinakkan. Sebelum kita menyampaikan persoalan pokok tabligh, terkebih dahulu hati orang yang akan kita tablighi itu harus dijinakkan dengan perlakuan kasih sayang, memberikan perhatian dan lain-lain, sehingga dia merasa nyaman berada bersama kita dan tumbuh rasa percaya kepada kita. Apabila sudah demikian, maka membicarakan persoalan pokok tabligh pun akan tidak menjadi masalah.
  8. Dalil.
    Untuk meyakinkan orang yang ditablighi terhadap persoalan pokok yang kita sampaikan, perlu kita dukung dengan mengemukakan dalil (argumentasi) baik secara aqli (akal, rasio) maupun secara naqli (nas Al-Quran, Hadits, dll). Tetapi Hudzur IV rh. ternyata menempatkan DALIL sebagai langkah yang terakhir. Penting kita menghafal beberapa dalil, Al-Quran maupun Hadits, tetapi kalaupun belum hafal hendaknya jangan menjadi alasan untuk tidak bertabligh. Tidak sedikit orang baiat tanpa harus dengan mengemukakan dalil Al-Quran atau pun Hadits.

Demikian, 8 (delapan) langkah petunjuk Hudzur IV rh. yang harus diterapkan sebagai sebuah SISTEM PELAKSANAAN TABLIGH. Apabila Sistem ini kita amalkan dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah, tidak saja tugas tabligh itu akan berjalan, tetapi juga dapat diharapkan membuahkan hasil.

Advertisements