Kuburan Yesus
Kuburan Nabi Isa as

Sebelumnya, saya telah menulis tentang kisah Alkitab yang menceritakan kewafatan Nabi Isa as sebagai manusia biasa. Jika ada pertanyaan “kok ambil sumbernya dari Alkitab, bukan Al Quran?” Kenapa tidak? Semua firman dalam kitab suci adalah kata-kata Allah Ta’ala, kecuali Dia sendiri yang menggantinya dengan yang lebih baik di Al Quran(QS 2:107).

Lantas, apakah kisah kewafatan Nabi Isa as di Alkitab sudah dibantah oleh Al Quran? Untuk menjawabnya, saya akan menulis ulang kisah wafatnya Nabi Isa as berdasarkan Al Quran dengan penomeran surat menghitung Bismillah sebagai ayat pertama.

Wafatnya Nabi Isa as

Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap Nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala pasti tidak langsung diterima oleh mayoritas masyarakat disekitarnya. Hal ini juga berlaku pada Nabi Isa as. Sejak dalam kandungan saja, Hadhrat Siti Maryam dituduh melakukan perzinahan, sebuah tuduhan yang keji dan tidak berdasar(QS 4:157). Karena Allah Ta’ala sendiri yang menyucikan Siti Maryam(QS 3:43).

Puncaknya adalah tuduhan Kaesar Romawi bahwa Nabi Isa as ingin memberontak dan menjadi Raja. Mereka juga menuduh Nabi Isa as merupakan nabi palsu(Nauzubillah). Atas kejahatannya, Nabi Isa as dijatuhi hukuman salib oleh umat Yahudi. Mereka ingin membuat Nabi Isa as mati terkutuk.  Sebagaimana ajaran Taurat bahwa siapapun yang mati di kayu salib maka terkutuklah kematiannya.

Akhirnya, Nabi Isa as pun disalib, merintih kesakitan, dan dua jam kemudian pingsan dan koma. Tetapi tentara Romawi melihat seolah-olah Nabi Isa as sudah wafat. Dengan bangganya mereka menyatakan Nabi Isa as wafat. Padahal mereka tidak menyalib dan membunuhnya, tetapi diserupakan oleh Allah Ta’ala kedua hal itu(QS 4:158).

Setelah diselamatkan, Nabi Isa as dan ibunya Siti Maryam pun pergi menghindari tentara Romawi dan mengumpulkan domba-domba Bani Israel yang tersesat(QS 3:50 dan QS 5:73). Tersesat dalam arti telah jauh dari ajaran Tauhid. Karena itu Nabi Isa as kembali mengajarkan bahwasanya yang patut disembah adalah Allah Ta’ala,bukan dirinya ataupun ibunya(QS 3:52, QS 4:172-175 dan QS 5:117-118).

Selama hidupnya, beliau bersaksi kepada Allah Ta’ala bahwa seluruh murid yang ditemuinya percaya bahwa Tuhan itu satu, Allah Ta’ala. Tetapi setelah meninggal, Nabi Isa as menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala untuk menjadi saksi mengenai keadaan murid-muridnya(QS 5:117-118).

Selama hidupnya, Nabi Isa as mendapatkan tuduhan-tuduhan keji dan mendapatkan ancaman mati terkutuk. Tetapi Allah Ta’ala menghapus segala fitnah tersebut dan mengangkat derajatnya sampai ke sisiNya dan menjadikannya salah satu Nabi Ulul Azmi(QS 4:159 dan QS 3:55).

Nabi Isa as dan ibunya berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tempat yang menjadi persinggahan terakhir bagi Nabi Isa as dan ibunya adalah dataran tinggi nan subur(QS 23:51). Tempat itu berada di Srinaghar, Kashmir, di India. Nabi Isa as wafat dengan nama Yus Asaf. Siapapun bisa berkunjung ke makamnya.

Inilah akhir dari kisah wafatnya Yesus atau Nabi Isa as yang diambil dari Alkitab dan AlQuran. Tidak ada sejarahnya Allah Ta’ala mengizinkan manusia, bahkan Rasulullah SAW, untuk hidup abadi tanpa makan, minum, solat, bayar zakat, dll di tempat entah berantah(QS 7:24-26, QS 20:55, QS 25:20, QS 21:8, dan QS 5:75).

Lalu bagaimana dengan Rasulullah SAW, apakah beliau saw mengakui kewafatan Nabi Isa as? Jika memang benar, mengapa Rasulullah SAW tetap mengabarkan bahwa Nabi Isa as akan datang kembali? InsyaAllah saya akan menjelaskannya kembali dengan tulisan. Yang jelas, Nabi Isa yang kedua pasti akan berbeda dari yang pertama. Karena yang pertama diutus hanya untuk Bani Israel(QS 3:50 dan QS 5:73), sedangkan yang kedua diutus untuk seluruh umat manusia.

 

Advertisements