Sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu yang akan bertemu dengan putra Maryam sebagai Imam Mahdi dan hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib dan membunuh babi. (HR. Ahmad)”

 

Jika kita ingin mempelajari sejarah Ahmadiyah, tentu kita harus mempelajari dulu sejarah dan kehidupan pendirinya yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Allah Taala berfirman dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 16:

Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Apakah kamu tidak memikirkannya?

Allah Ta’ala bertanya kepada masyarakat Arab yang tinggal bersama bahwasanya mereka tahu betapa mulianya kepribadian Rasulullah SAW, sehingga pantaslah beliau saw diutus olehNya sebagai obat untuk seluruh manusia.

Karena itu mari kita kembali ke zaman seolah-olah kita hidup tinggal lama bersama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Kepribadian yang sangat memperjuangkan kebenaran Islam dan keunggulan Rasulullah SAW, sehingga mustahil bagi beliau untuk mengaku-ngaku sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa as, kecuali Allah SWT yang berbicara langsung dengannya.

Kecintaan Kepada Allah Ta’ala

Lahir pada 13 Februari 1835, di zaman dimana pendidikan dianggap suatu hal yang tidak penting. Alhamdulillah, Allah Ta’ala menggerakan hati ayah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad untuk memberikan pendidikan sebaik-baiknya. Waktu kecil ayah beliau sudah menyewa Fazil-i-Illahi untuk belajar Al Quran. Saat umur 10 tahun, beliau diajarkan beberapa beberapa kitab saraf-nahu (gramatika) bahasa Arab dengan sabar dan penuh perhatian oleh Fazal Ahmed. Pada umur sekitar 17 atau 18 kembali belajar tata Bahasa Arab, ilmu logika dan filosofi dengan Gul Ali Shah, ditambah dengan pendidikan medis oleh ayahnya Hadhrat Mirza Ghulam Murtaza yang seorang tabib.

Dari kecil, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sudah mempunyai prinsip bahwa dunia hanyalah sementara. Pikiran beliau sudah tertuju pada Sang Pencipta. Sama sekali tak tertarik pada urusan dunia. Sang ayah menyuruhnya untuk bekerja di pemerintahan, namun hati kecil Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ingin menghabiskan seluruh hidupnya demi Allah Ta’ala. Ayahnya pun bingung, bagaimana nanti Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad bisa hidup apabila dia wafat. Tapi sebagai ayah yang baik tentu saja beliau sering mengajarkan Al Quran dan Hadis kepada anak bungsunya. Sambil terus membujuk Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad untuk mengejar dunia. Sebaliknya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad terus membujuk ayahnya agar melepaskan kecintaannya kepada dunia dan menghirup kecintaan kepada Allah Ta’ala.

Meskipun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tetap membantu ayahnya dalam pekerjaan, pikiran beliau sama sekali tertancap pada Sang Pencipta. Setiap waktu solat datang, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan berhenti dari pekerjaannya dan melaksanakan solat. Suatu saat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sedang menunggu di pengadilan untuk perkara. Kasus ini yang jika beliau menang akan menguntungkan hak-hak keluarganya. Lalu azan terdengar, tanpa ragu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menyerahkan kasusnya ke Allah Ta’ala dan mencari tempat sepi untuk melaksanakan solat. Selesai solat, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pasrah dan menganggap beliau kalah. Alhamdulillah, Allah Ta’ala memenangkan kasus beliau.

Kematian Sang Ayah dan Ilham Pertama

Pada tahun 1876 Hazrat Mirza Ghulam Ahmad berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah Ta’ala menurunkan ilham berikut ini kepada beliau:

Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari ini.

Beriringan dengan itu kepada beliau diberikan pengertian bahwa ilham ini mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau yang akan terjadi setelah Maghrib. Tentu saja kabar ini membuat hati beliau sangat sedih. Rasa khawatir akan penghidupannya sepeninggal Ayahnya. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menyampaikan:

Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah. Sebagian besar penghidupan kami bergantung pada ayahanda. Sebab beliau biasa mendapat pensiun dan hadiah yang agak besar dari pemerintah, yang tentu akan dihentikan setelah beliau wafat. Maka timbullah di dalam pikiran, apa yang akan terjadi setelah ayahanda wafat? Hati merasa khawatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang kami akan menderita kesusahan dan kesukaran. Semua pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua ini :

Alaysallaahu bikaafin ‘abdahu’ (Apakah Allah tidak cukup bagi hamba- Nya?)

Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham ‘Alaysallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya.“

Pada masa sulit ini, Allah Ta’ala mengabarkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad untuk mendapatkan nikmat-nikmat Ilahi harus melakukan mujahidah (usaha yang bersungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan yang diridai Allah Ta’ala). Yakni beliau harus berpuasa. Menurut perintah Ilahi ini beliau berpuasa berturut-turut 6 bulan lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin.

Pada waktu yang amat susah sekali pun beliau tidak menunjukkan– secara langsung ataupun dengan isyarat — untuk memperoleh bagian dari harta warisan ayahnya. Bukan hanya selama hari-hari puasa itu saja, bahkan pada waktu-waktu lainnya pun Hazrat Ahmad suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin, dan untuk diri sendiri beliau hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Maka banyak para fakir miskin suka tinggal dengan Hazrat Ahmad as. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri — walau pun beliau sendiri berada dalam kesusahan.

Ibadah dan Pengkhidmatan Agama Islam

Awalnya Hazrat Ahmad mengkhidmati agama Islam dengan menulis keterangan-keterangan untuk melawan keterangan-keterangan yang diberikan oleh agama Kristen dan Hindu Ariya untuk menyerang Islam melalui surat kabar. Tetapi mereka menyerang dengan lebih hebat dan tak seorang pun yang dapat melawannya. Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam. Buku tersebut bernama al-Barāhīn al-Ahmadīyyah ‘alā Haqīqatu KitābAllāh al-Qur’ān wa’n-Nabūwwatu al-Muhammadīyyah (Barahiyn Ahmadiyah,  Bukti-Bukti Kebenaran Kitab Suci Allah – Al Quran, dan Nabi Muhammad SAW).

Buku ini terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama hanya berisi seruan dan pengumuman, tetapi sudah cukup menggemparkan seluruh negeri. Dalam pengumuman itu Hazrat Ahmad mengemukakan suatu tantangan, bahwa jika seorang tokoh pengikut suatu agama lain dapat mematahkan seluruh argument-argumen keunggulan Al Quran dan kebenaran Nabi Muhammad SAW yang ada di buku tersebut, atau setengahnya saja, atau malah seperempatnya saja sekali pun, maka beliau akan menghadiahkan seluruh harta warisan beliau yang bernilai 10.000 rupis kepada orang itu. Pertama kali beliau menggunakan harta warisan untuk kemajuan Islam, membuktikan keunggulan agama Islam dibanding agama lainnya. Tantangan yang sampai sekarang belum ada yang bisa menjawabnya.

Ulama besar India kala itu, Mohammad Husain Batalwi yang hidup sezaman dengannya memuji:

“Dengan ringkas dan tidak berlebih-lebihan, kami terangkan pemandangan kami tentang kitab ini (Barahin Ahmadiyah), bahwa melihat kepada keadaan yang ada pada masa sekarang, adalah kitab ini suatu kitab yang tidak ada bandingannya, dan belum ada contohnya di dalam Islam sampai sekarang. Dan pengarangnya pun adalah seorang yang selalu tetap memajukan Islam dengan pengorbanan jiwa, tulisan dan perkataan dengan perbuatan dan kenyataan. Orang semacam ini, di antara orang Islam yang dahulu-dahulu pun jarang di dapat contohnya”.(Isyaatus Sunnah)

Baiat Pertama.

Tersiarnya keunggulan dan kebenaran buku Barahiyn Ahmadiyah melambungkan nama Hadhrat Ahmad. Semakin banyak yang membaca, semakin banyak yang bersimpati dan mengakui bahwa Hadhrat Ahmad adalah seorang pembela Islam. Qadian yang terletak jauh dan terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh.

Para cendekiawan seperti Hazrat Maulvi Nuruddin, seorang tabib istimewa Yang Mulia Maharaja dari Jammu yang dipuji dan dijunjung oleh kawan maupun lawan karena ilmunya, sangat tertarik pula pada Barahiyn Ahmadiyah. Selama di Jammu, beliau mempelajari buku Barahiyn Ahmadiyah dan sangat mencintai Hadhrat Ahmad karenanya. Atas dasar kecintaan dan ketaatannya, Hazrat Maulvi Nuruddin tetap teguh menempatkan kesetiannya pada Hadhrat Ahmad hingga akhir hayatnya.

Barahiyn Ahmadiyah semakin lama semakin mengambil tempat di hati para masyarakat Qadian, bahkan banyak yang mengajukan permintaan supaya Hazrat Ahmad mengambil bai’at dan menjadikan mereka murid-murid beliau. Tetapi permintaan itu senantiasa beliau tolak, dengan menjawab bahwa segala urusan beliau berada di tangan Allah.

Akhirnya tibalah pada Desember 1888 ketika melalui ilham Ilahi, Hazrat Ahmad diperintahkan untuk mengambil bai’at dari orang-orang. Bai’at yang pertama diselenggarakan di kota Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889 di rumah seorang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan. Dan orang yang bai’at pertama kali adalah Hazrat Maulvi Nuruddin. Pada hari itu kurang lebih 40 orang telah bai’at. Setelah itu berangsur-angsur semakin banyak yang bai’at. Bai’at inilah yang menjadi cikal bakal dari komunitas Islam Ahmadiyah.

Lalu pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka Hazrat Ahmad menerbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh murid beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim. Maksudnya, Hazrat Ahmad telah menambahkan nama Ahmadi bagi Muslim yang telah berbai’at kepada Hadhrat Ahmad untuk membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya.

sumber referensi: Buku Riwayat Hadhrat Ahmad as karya Khalifatul Masih II ra

Advertisements